Bahwa siapapun bisa
menjadi guru bagi kita. Selayaknya seorang murid yang cerdas, pandai memilah
mana yang perlu untuk diambil dan mana yang ditinggalkan saja. Allah
benar-benar ingin kita mengerti dengan cara-Nya. Mencerdaskan dengan apapun
yang menyapa kita. Membuat mengerti hal-hal yang sebelumnya belum kita pahami.
Membuat kita menyadari dan memaknai kejadian-kejadian sarat hikmak tersembunyi.
Termasuk beberapa hari
ini, Allah ingin aku membaca. Ya, itu intinya. Ketika niat hati ingin membeli
dan harus ditangguhkan karena uang saku yang terlampau ngepas, Ada saja ilmu itu datang. Maha besar Allah...
Aku menyadari, karena amanah
yang sekarang ditumpukan di pundak ini. Ditambah dengan sekuat tenaga untuk
ikhtiar dan jika rencana kita bertemu dengan kehendak Allah maka itulah takdir.
Sedari kemarin jantung
ini berdebar, menyambut amanah yang tak ringan. Hanya ingin menganggap semua
yang dari Allah adalah istimewa. Maka yang istimewa itu yang kita perlakukan
lebih. Yang kita usahakan kesempurnaannya. Maha Besar Allah. Aku ingin sekali
bisa dekat dengan-Nya. Dekat artinya mencintai dan ber-raja’ untuk dicintai juga. Karena ketika sang Khaliq sudah cinta,
maka apa yang tidak untuk kita?
Detik saat dibacakan
keputusan tim Formatur GS2, terngiang pidato sayyidina Umar Bin Khattab saat
beliau diangkat menjadi kholifah. Menderu dan merinding rasanya. membayangkan
kedahsyatan kata-kata beliau yang menghipnotis sahabat-sahabat saat itu. Hingga
hati ikhlas menerima dan tunduk. Hingga air mata menetes dan muncul dukungan
untuk kholifah saat apa yang dilaksanakan adalah kebenaran dan ada juga
keberanian untuk menegur jika Sang Al Faruq khilaf.
Semua tentang hari ini
ingin aku bungkus dengan mengucap satu kata, Allah Jadikan Hamba seorang
pemimpin yang amanah.. Amiin
Pagi di hari Rabu tanggal
18 Januari 2012 ini aku merencanakan untuk pulang dan lagi-lagi aku ingin
dijemput lagi (hehe). Sebenarnya sudah ada firasat, kayaknya ada yang
mengganjal. Ternyata benar.
Ada
Ganjalan
Ganjalan pertama, si Abang
gak pake motor yang biasanya. Wew, malah pake motor yang penuh atribut partai
(hahahaha). Kasian nian tuh motor. Jadi ‘korban’ kampanye tahun 2009 saat
pemilihan presiden. Tau sendirilah ada berapa banyak ponakanku. Masing-masing
memegang satu stiker warna keemasan dengan 2 bulan sabit yang dipisah setangkai
padi. Masyaallah... Stiker itu mendarat di semua sisi dan semua sudut yang
kosong dan berpotensi untuk dilihat mata. Wew! Alhasil motor ini benar-benar
ikut andil dalam syiar partai.
Weleh-weleh.. (-_-)’
Ganjalan Kedua, setelah
motor meluncur beberapa kilo si Abang cerita tuh kalo rantai motornya lepas 2
kali saat tanjakan ke Trankil. Superr sekali. Untung pas aku gak lagi mbonceng
(wkwkwk). Kami yang biasanya berlari sekencang kuda, hari ini tiba-tiba
mendadak sekencang--apa ya? Aku bingung menggambarkan kecepatan kami.
<(^_^)>
Itu
paginya. Ini siangnya....
Seolah memenuhi kerinduan
akan saudara dan sahabat lama. Setelah sarapan dan berbincang dengan ortu aku
segera menuju ke rumah tempat ponakan-ponakanku bebas mengekspresikan
kekonyolan mereka. Di rumah mbak Umi. Mbak pertamaku. Waktu kami lalui dengan
berdiskusi dan aku menceritakan kehidupan kampusku. Ada satu hal yang sangat
berkesan dari diskusi kami. “Rezeki itu dari Allah dan mungkin saja orang-orang
terdekat di sekitar kita itu sebagai lantarannya. Tak perlu menjadikan proses
lantaran itu sebagai hal yang menjadikan kita bersikap condong”. Okelah, pasti
yang baca ini agak gak mudeng. Gak papa ^^
Belum sempat jeda setengah
jam aku mengobati rindu dengan sahabat lama sejak kecil. Kami seolah sudah
bersepakat dan tangan kami seirama untuk saling menggandeng dan banyak cerita
yang dikisahkan dek Silvi saat itu.
Memancing
bersama Etong \(^.^)/
Hal yang sudah lamaaaa
sekali tidak kami kerjakan. Memancing di kali belakang rumah. Itu hoby Etong
sejak kecil dan aku hanya ikut-ikutan saja. Untuk siang ini pun sama aku
menjadi penonton dan membantu menarik kenur yang tersangkut di tanaman kali.
Kami banyak bercerita. Bernostalgia dan akulah yang paling cerewettt.
Aku juga sangat tahu kalau
hoby ini berlanjut saat Etong belajar di Negeri dekat sungai Nil itu. Katanya
di sana ikannya besar-besar.
Adzan berbunyi dan kami
memutuskan membungkus siang dengan senyuman. Ada dua ikan besar dan sisanya
ikan kecil (hehehe). Aku yang membawanya pulang.
Lanjut
ya... Sekarang Malamnya!
Kami duduk di teras depan.
Hanya berdua karena yang lain sedang pergi. Aku dan Etong lagi. Kami berkisah
mengenai kehidupan kampus. Awalnya aku yang bercerita tentang Semarang.
Kemudian dia yang melanjutkan cerita. Dari mulai Solo sampai Sudan.
Kami terpingkal-pingkal
saat Etong bercerita tentang toilet asrama, tentang pekerja kebersihan dan
tragedi lari-lari untuk mencari kamar mandi yang bersih. Aku seperti ikut
terbawa di lokasi cerita.
Ada 21 kamar di
masing-masing lantai. Ada 3 lantai di asrama itu. Setiap kamar dihuni 8 orang
dan hanya ada 4 kamar mandi di setiap lantai. Itupun belum tentu keempatnya
berfungsi semua. Weew... knp jadi cerita tentang kamar mandi ya? (O_o)
Adzan isya’ mengakhiri
kebersamaan. Inilah yang sangat aku rindukan sejak dulu.. bersama Etong Kecil.
Bedua saja^^
Sungguh, apapun yang Allah beri untuk kita kemarin, hari ini ataupun esok pagi adalah bentuk kasih sayang-Nya agar kita bersedia untuk senantiasa belajar. Meski terpaksa ataupun dengan rela. Allah membelajarkan kami dalam kisah itu. Di bukit yang sempat berkabut itu aku merasakan bagaimana berlatih dalam kerombengan ukhuwah. Rombeng lantaran dzon yang menggelayuti hati. Merasa sendiri, merasa memikul beban yang amat sarat.
Ada yang menyesak di hati. Kawan, beginilah aku yang butuh uluran tanganmu untuk menggandengku. kemudian dengan formasi erat tangan kita memikul beban berat itu bersama.
Waktu berlalu. Sekisah itu kini terganti lantaran tabayyun padamu. Rasanya sekisah itu menjadi indah lantaran aku mulai tahu bahwa ini memang Allah siapkan untuk perjalananku selanjutnya. Barangkali sedikit atau bahkan tak ada tangan yang terulur untukku.
Cinta ini terbingkai dalam ukhuwah yang indah. Untukmu saudara-saudaraku di jalan dakwah^^
Subhanallah, Allah ingin aku mengerti dengan cara-Nya. Dari mulai
membaca tulisan Ustadz Salim di Blog sampai berdiskusi tentang banyak hal di
meja makan dengan seseorang yang tidak pernah aku rencanakan berdiskusi
dengannya. Allah kembali membuka mata ini. Yang sering melihat tapi hakikatnya buta.
Sungguh, beliau akhwat yang sangat bijaksana. Malam ini banyak terpenuhi semua
keinginan akan nasihat. Syukron katsiron mbak Berlina..
Kawan, menjadi terbuka akan masalah diri sendiri mungkin hal
yang mudah bagi sebagian orang, tetapi jangan keliru karena bisa jadi sulit
bagi sebagian lain. Namun, bercerita tentang keluh kesah kita kepada seseorang
yang dapat dipercaya tentu bukan kesalahan. Murobbiyah, sahabat, ummahat atau
saudara-saudara lain adalah teman hidup yang ada untuk membersamai jalan dakwah
ini. Dan satu hal, ada Allah yang selalu menerima pintu maaf dan segala keluhan
dari hamba-hambaNya..
Inspirasi hari ini: keluarlah dan carilah duniamu. Kejarlah pintu-pintu
nasihat itu. Lalu tersenyum dan berbagilah.. ^_^
Dua hari tidak pernah jauh dari kompor. Ya, this time is to cooking2...
horeee... Memasak banyak memberikan pengajaran bagi kita. Di dapur kecil itu,
kami saling mengenal. Jauh dari yang aku bayangkan. Saat itu di hari kedua, kami
hanya berdua juga. Berdua saja tak ada yang lain. Karena yang lain sedang
menikmati hari tenangnya di rumah. Berbeda, Aku dan Reni memilih menikmati hari
tenang di kos.
Kesurupan,
sambal terung dan Kepribadian. -_-‘
Entah apa yang terjadi. Tanggal 31 Desember di penghujung tahun 2011
itu kami seperti kesurupan. Nafsu makan tak bisa ditahan. Gila abisssss...
semua makanan di lemari dingin itu ludes! Tak terkecuali pohon rambutan di
sebelah kos kami ikut kena efek kesurupan. Hahahaha... ampun!
Memasak mengungkap sisi asli dari diri kita. Sisi asli yang sering
berusaha untuk kita simpan. Semua seperti terlihat gamblang saat itu. Tanpa sekat
sedikitpun. Wushshsh.... jetha wela-wela.
Hari pertama kami memasak sambal terung. Tau nggak? (pasti nggak
tahu, hahahah). Terung yang kami masak itu akhirnya terpakai setelah hampir 3
minggu di kulkas. Weleh weleh.. nek wis
kesurupan apapun jadi lah... hehehe. Dengan bumbu seadanya. Just cabe rawit 3 buah, bawang merah dan
bawang putih yang kami layukan dengan di goreng. Tak ada maksud lain hanya
untuk mempermudah saat dihaluskan dalam cobek. d(^_^).
Akhirnya secobek kecil
sambal terung mengobati kesurupan kami. Mungkin lebih tepatnya mengobati rindu
pada masakan ibuk di rumah. Meski hanya pedas dan asin yang membalut terung
goreng kami sudah cukup puas. Alhamdulillaah,
kenyang..
Sekali lagi memasak banyak mengungkap sisi kepribadian kita.
Bagaimana pribadi membuat keputusan dalam hidup juga bisa terbaca saat memutuskan
bumbu dapur apa yang akan diambil. Pribadi yang tegas, percaya diri dan berani
akan terlihat dari bagaimana dia mantab mengambil bumbu-bumbu itu dari
tempatnya. Tanpa banyak bertanya dan minta pertimbangan. Pribadi yang senang
menerima dan meminta pertimbangan dalam mengambil keputusan dalam hidup akan
terlihat saat ia bertanya kepada partner
masaknya tentang bagiamana pendapatnya
jika ia mengambil bumbu sejumlah ini. Dari yang percaya diri, senang menerima
masukan dari orang lain sampai peragu terlihat dengan jelas. Memasak memang
mengungkap banyak sisi dari diri kita. Aku menyadarinya dan I Love it! J
Memasak juga menambah khazanah kita tentang kekhasan masakan berbagai
daerah. Dari Jogja yang dominan manis sampai Kudus yang manis banget. Seperti akuuuu..
hahaha. Gak boleh protes! (~_~)
Memasak dan
Menemukan kekurangan diri
Aku ingin melakukan kegiatan yang bisa membuatku lebih menikmati
hidup ini. Lebih memaknainya dan menghargainya ^^. Ini salah satunya. Memasak. Sederhana
tapi sarat makna ^o^
Dalam perjalanan hidupku, aku menyadari betapa masa lalu itu ikut
memberi andil dalam diriku yang sekarang. Ya Allah.. aku ingin berdamai dengan
masa lalu.. masa lalu yang merindukan sosok Bapak.. Aku mencintai Bapak. Sangat
cinta.. T.T
Kekeruangan diriku tak luput juga tampak dengan jelas di dapur
kecil kos kami. Ternyata aku orangnya gak
sabaran dan pengennya cepet. Kadang tergesa-gesa dalam mengambil keutusan
seperti saat tergesa mengambil garam. Alhasil sambalnya keasinan. Bukan pengen
nikah lhoooo... wkwkwkwk
Lia, belajarlah untuk menghargai tahapan dan prose. Ok-ok, kataku. (Gua
lagi ngobrol sendiri, bos..! jangan protes lagi. Haha)
Dari Dapur
sampai Mengingat Bapak
Kami jarang ngobrol. Setidaknya tak sesering dahulu saat aku masih
kanak-kanak. Bapak di mataku adalah pahlawan. Aku merindumu, Bapak... sangat
rindu.
Bapak adalah orang yang keras. Anak-anaknya sering kena marah.
Allah, aku memaafkannya..
Kehidupan mengajari kita tentang banyak hal. Semua orang, siapa
saja bisa menjadi guru bagi kita. Tapi semua itu masih mensyaratkan kita untuk
menjadi murid yang cerdas. Yang pandai menyaring, memilih dan memilah. Allah,
sayangi bapak hamba...
Semua hanya tentang komunikasi, aku yakin tak ada yang terlambat...
Allah beri kami kesempatan itu.. v.v
Berhenti
bersedih dan Ayo Masak Lagi!
Yaah, ayo segera hapus duka dan mari masak kembali... \(^o^)/
Kali ini bakwan jagung dan sayur bayam bening! Pagi-pagi
keringetan. Joss poko’e.. Masakan kami
dijamin sehat karena higienis dan anti MSG. Mau- mau?
Harmoni ini
begitu lembut membelai hati. Hingga tak pernah sanggup bagiku untuk menolaknya.
Ini adalah tentang keterikatan. Tentang ketertautan. Tentang doa-doa yang
sangat diinginkan keterkabulannya. Tentang ukhuwah. Tentang cinta.
Aku menjadi
bagian dari harmoni yang berterbangan di antara harmoni-harmoni lain. Jikalau
kita ingin memahami maknanya maka tanyakanlah pada seorang harmoni yang
sekarang terbang begitu jauh dari harmoni-harmoni yang didekapnya dulu. Terbang
bukan karena pergi atau mengubah diri namun ia hanya ingin mendekap harmoni
lain di tempat yang berjarak. Sesungguhnya dia masih terikat dengan harmoni
sebelumnya. Terikat oleh tali iman dan cinta. Jikalau kau inginkan makna
ukhuwah maka tanyai saja harmoni itu. Kau akan menemukan keterharuan
membersamainya. Doa-doa yang selalu dia panjatkan untuk keterikatan itu. Begini
kalimat yang harmoni itu tuliskan untukku:
Persaudaraan itu sepenuhnya tentang rindu
Yang membuat selalu tak sabar ingin bertemu
Membuat terasa rugi jika tak berbagi..
Ini adalah tentang hati-hati yang terikat
Tentang doa-doa yang saling bertaut
Dia adalah tulus yang menjelma
Dia terasa rumit tuk diungkap
Namun nyata dalam kata sederhana
Dia dalam tuk diselami
Karna dia adalah iman yang berupa makna
Semoga Allah senantiasa mengikat hati-hati kita
dalam balutan ukhuwah
Aku merindu
engkau. Mendamba nasihat. Menginginkan senyum tulus dan memimpikan bertemu
serta mendekapmu erat wahai murabbiyahku.. teriring doa dan harapan. Semoga
Allah semakin mencintaimu..luph U tak
terkira ^^